Panjangnya hampir 11 meter, tinggi 3 meter, dan lebar 3,75 meter. Memakai mesin 12 silinder bertenaga 1.500 daya kuda.

Begitu Anda melihat benda ini beraksi, ada kombinasi reaksi antara ketakutan dan ketertarikan. Inilah Leopard 2, salah satu tank Jerman paling terkenal.

Pada 2020 ini, Leopard 2 merayakan ulang tahunnya yang ke-40. Cukup alasan bagi kami untuk mendekati dan mengulas mesin perang ini.

Tentu saja, ini bukan tentang militerisme buta. Frank Haun, direktur pelaksana Kraus-Maffei-Wegmann (KMW), produsen Leopard 2, mengatakan sesuatu pada 2014.

"Tanpa tank tempur utama, kami tidak dapat mempertahankan Jerman, jangkauan kemampuannya tidak dapat digantikan oleh apa pun," katanya.

Bahkan, Swiss yang bisa dikatakan tak punya angkatan bersenjata pun memiliki tank Leopard 2 di sistem pertahanan mereka.

Beberapa negara juga memiliki tank tangguh ini. Sebut saja Cile, Qatar, Singapura, dan tentu saja Indonesia.

Ya, Angkatan Darat RI memang memiliki Leopard 2 dengan model KMW Leopard 2A4 MTB dan KMW Leopard 2RI MTB.

40 Jahre Leopard 2

Tank Leopard 2 gagal dibuat dalam proyek persenjataan pada era 1960-an di mana Amerika Serikat (AS) dan Republik Federal Jerman terlibat.

Sempat ada tujuh prototipe dibuat dengan nama Kampfpanzer 70. Menghabiskan biaya sebesar 830 juta mark. Bayangkan, kala itu saja sudah keluar uang setara Rp7,2 triliun.

Proyek Leopard 2 pun akhirnya dihentikan pada 1969. Lalu, AS membuat sendiri tank M1 Abrams yang dibuat berdasarakan pengalaman yang diperoleh di proyek Leopard 2.

Pada akhirnya, Jerman tetap bisa memproduksi tank Leopard 2 ini. Sejak 1979, Leopard 2 mulai menggantikan Leopard 1 di angkatan bersenjata Jerman, Bundeswehr.

Gambaran unik dari Perang Dingin ditunjukkan oleh data berikut. Pada 1990, Bundeswehr memiliki 2.125 Leopard 2.

Pada 2008 hanya 350 unit. Di masa mendatang, jumlahnya diperkirakan akan turun menjadi 225 unit saja.

Kendati di masa depan konflik akan lebih banyak dilakukan dengan serangan drone dan peretas, Leopard 2 tidak direncanakan akan dinonaktifkan hingga 2030.

Penggantinya, Main Ground Combat System (MGCS), sudah dikembangkan bersama dengan Prancis.

40 Jahre Leopard 2

Mari kita lihat lebih dekat teknologi tank Leopard 2. Tank bongsor ini memakai mesin multi-bahan bakar V12 empat langkah tipe MTU MB 873-Ka501 berpendingin air.

Kabinnya dilengkapi dengan pendingin udara dan dua tabung untuk memasok oksigen ke perangkat turbocharge.

Memiliki tenaga 1.500 dk pada putaran 2600 rpm. Kecepatan tertingginya 68 km/jam. Namun, ini disesuaikan dengan medan yang ditempuh.

Rata-rata di permukaan datar, 30 km/jam sedangkan untuk kecepatan mundur bisa mencapai 31 km/jam.

Tank Leopard 2 yang siap beraksi memiliki berat sekitar 64 ton. Tangkinya menampung 1.160 liter bahan bakar, tetapi dibatasi hanya 900 liter di masa damai.

Konsumsi bahan bakarnya 410 liter per 100 kilometer. Seperti tank tempur utama lainnya, Leopard 2 dapat melintasi perairan tanpa bantuan teknologi perintis.

Dapat melintas medan air hingga kedalaman 1,2 meter tanpa bantuan apa pun. Dengan bantuan poros bawah air, meski berada di kedalaman empat meter pun masih bisa digerakkan.

Awaknya terdiri dari empat orang. Komandan, penembak, loader (pemuat), dan pengemudi. Bundeswehr menetapkan laras meriam berukuran 120 milimeter ditambah dua senapan mesin MG3 sebagai senjata tambahan.

Ada pula sistem pembuangan asap untuk kamuflase tapi dengan alasan kerahasiaan, informasi ini sulit sekali didapatkan.

Leopard mengalami peningkatan nilai tempur beberapa kali di sektor otomotif. Dalam versi A5, lapis baja tambahan dipasang pada bagian depan menara.

Perangkat pencitraan termal terpisah untuk komandan membuatnya terpisah dari penembak.

Dengan penguat cahaya untuk pengemudi, tank ini sepenuhnya mampu melakukan pertempuran di malam hari di segala kondisi cuaca.

Untuk melindungi empat awak, Leopard 2 memiliki sistem perlindungan dari perang biologi dan kimia.

Jika tank Leopard 2 ini berada di area yang terkontaminasi atau terpapar senjata biologi dan kimia, para awaknya akan tetap aman untuk durasi 48 jam.

Pada Juni 2016, KMW mempresentasikan tahap pengembangan berikutnya dari Leopard 2A7V (lihat gambar di atas).

Pelindung pasif di bagian depan lambung dan perangkat pencitraan termal generasi ketiga untuk penembak ditambahkan.

Selain itu, ada peningkatan akselerasi melalui modifikasi girboks dan transmisi samping. Artinya, tank Leopard 2 ini akan makin kencang berlari.

Relokasi sistem proteksi NBC (nuklir, biologi, dan kimia) di belakang tower untuk menciptakan ruang untuk perangkat pendingin bagi pengemudi.

Ada pula sistem penglihatan siang dan malam untuk pengemudi di depan dan belakang sehingga visibilitas awaknya makin baik.

Pada Mei 2017, kontrak untuk pengiriman 104 Leopard 2 varian A7V ditandatangani Bundeswehr dan Krauss-Maffei Wegmann.

Armada kendaraan berat Bundeswehr akan bertambah menjadi 328 unit Leopard 2 A7V. Volume pesanan sekitar 760 juta euro atau sekitar 7,3 juta euro per unit.

Jika dirupiahkan, banderol Leopard 2 terbaru sekitar Rp125,4 miliar. Pengiriman  direncanakan antara 2019 dan 2023.

Galeri: Tank Leopard 2