Oktober lalu, Hyundai meluncurkan kendaraan listrik terkecil yang pernah mereka produksi. Saat itu, brand asal Korea Selatan (Korsel) tersebut bahkan belum memberi nama buat sang EV mungil.

Tetapi sekarang, mereka kembali dan memperkenalkan model tersebut sebagai Hyundai Mini 45 melalui video promosi yang menyentuh.

Di masa sulit ini, Hyundai memutuskan untuk menghadirkan senyuman di wajah para pasien Rumah Sakit Anak SJD Barcelona, Spanyol.

Caranya tentu saja dengan memberi bocah-bocah tersebut kesempatan mengendarai mobil listrik mini terbaru.

Misi pabrikan mobil itu adalah menenangkan para pasien, serta membuat mereka tertawa dengan menggunakan sistem Emotion Adaptive Vehicle Control (EAVC) yang canggih.

Galeri: Hyundai Mini 45 Electric

Teknologi tersebut menggabungkan informasi dari berbagai sensor yang mengukur detak jantung, laju pernapasan, ekspresi wajah.

Semua parameter tersebut dibutuhkan untuk menciptakan suasana yang nyaman bagi pengemudi, sesuai dengan suasana hatinya.

Aplikasi tersebut telah terpasang pada Mini 45 EV yang disumbangkan ke rumah sakit, dan akan digunakan untuk "perjalanan dari tempat tidur pasien menuju ruang perawatan."

Seperti yang kita tahu, situasi tersebut sangat mungkin membuat frustrasi, gugup, bahkan menakutkan bagi para pasien muda dan anak-anak.

"Kami ingin teknologi kami membantu meningkatkan kualitas hidup pelanggan di berbagai ruang mobilitas, tak hanya di jalan raya," kata Jinmo Lee, insinyur peneliti senior di Hyundai Motor.

"Kami berharap teknologi EAVC pada model mini ini bisa memberikan pengalaman mobilitas yang menyenangkan dan aman bagi pasien anak, serta membantu meningkatkan kesehatan mereka."

Dalam video promosi tersebut, mobil listrik Mini 45 membantu seorang anak perempuan yang tampak gelisah, untuk lebih siap secara emosional menjalani perawatan.

Kendaraan tanpa emisi tersebut berinteraksi dengan pasien tergantung kepada suasana hatinya.

"Rumah sakit sangat senang memiliki teknologi seperti itu yang tersedia untuk anak-anak," Kepala Departemen Kardiologi Anak di Rumah Sakit SJD, Joan Sanchez de Toledo, menambahkan.

"Ini secara dramatis akan mengubah cara pasien menghadapi pengobatan."