Tak banyak kegiatan yang bisa dilakukan pada masa sulit pandemi virus corona saat ini. Arahan social distancing masih terus diberlakukan, masyarakat Indonesia umumnya cenderung diam di rumah.

Namun, bukan berarti kita tak bisa sesekali mengisi waktu dengan menikmati hobi. Itu pula yang dilakukan Indra Dhani, salah seorang petinggi Indonesian Cycling Federation (ICF).

Selama pandemi, Kabid Perlombaan ICF itu masih sering menjalankan kegemarannya bersepeda bersama komunitas Trek ID.

Tak sebatas itu, Indra juga memiliki kesenangan lain yang lebih menantang, yakni touring sepeda motor keliling Indonesia. Hal inilah yang bakal kami kupas lebih lanjut.

Indra Dhani di Pantai Klayar, Pacitan

Mundur lima tahun menuju 2015, hobi gowes telah mempertemukan Indra dengan beberapa rekan yang ternyata juga senang menunggangi motor gede.

Dari sana, mereka akhirnya membentuk komunitas anyar yang dinamakan “The Brad”, singkatan dari brotherhood atau persaudaraan.

“Dulu tuh, kami juga sering menyapa sesama dengan sebutan ‘brad’. Jadi pas bikin komunitas, ya sudah, kami namakan saja The Brad,” tutur Indra kepada Motor1.com Indonesia.

Tak disangka, peminatnya cukup banyak. Sampai saat ini, anggota mereka sudah mencapai 40-50 orang. Uniknya, semua juga pecinta sepeda.

Berbeda dengan komunitas motor yang biasanya mengumpulkan brand serupa, anggota The Brad memiliki tunggangan bervariasi.

Mulai dari BMW R 1250 GS, Honda CRF 250, sampai Triumph Tiger 800. Bukan hanya merek, tapi bermacam tipe.

Komunitas The Brad di Taman Nasional Bromo Tengger Semeru

Indra sendiri memilih Honda CB500X sebagai andalannya untuk touring. Dia merasa nyaman saat mengendarai big bike tersebut, meskipun banyak model lain yang lebih sangar.

Saat ini, Indra mengaku hanya memiliki tiga sepeda motor koleksi pribadi. Selain Honda CB500X, dia juga punya Kawasaki D-Tracker 250 dan Honda ADV 150.

“Menurut saya, trek di Indonesia cenderung kecil dan sempit. Jadi, motor adventurer macam CB500X ini dirasa sudah cukup,” katanya.

Indra mengaku sempat tergoda untuk membeli BMW R 1250 GS, setelah mencicipi moge bermesin boxer kepunyaan temannya.

“Tapi kemudian saya berpikir lagi, apakah saya benar-benar butuh? Lagipula bodinya terlalu tinggi buat saya,” tambahnya sembari tertawa.

Bersama Honda CB500X-nya, Indra sudah menjelajah ke berbagai pelosok tanah air.

Dari touring jarak dekat, seperti Sukabumi, Pelabuhan Ratu, dan Ujung Genteng, sampai lintas pulau ke Aceh dan Sumba.

Tahun ini, The Brad sudah memiliki rencana untuk riding bersama menuju Sulawesi, yakni ke Kota Makassar dan Manado. Mungkin pada pertengahan 2021.

“Beberapa waktu lalu, 24 Desember, kami ada kolaborasi dengan komunitas Kymco untuk riding ke Pagar Alam, Sumatera Selatan,” Indra menambahkan.

Galeri: Indra Dhani dan Komunitas The Brad

Bagi Indra Dhani dan Komunitas The Brad, touring merupakan cara untuk menyegarkan pikiran. Itulah sebabnya mereka tak terlalu memaksakan diri selama perjalanan.

“Kami selalu mencoba santai. Sebelum magrib biasanya sudah cari penginapan. Ini supaya kami kembali segar keesokan harinya,” kata Indra.

Hobi Vespa

Kegemaran Indra Dhani terhadap tunggangan roda dua tak berhenti di sepeda dan motor gede. Pria paruh baya ini juga suka Vespa.

Tak tanggung-tanggung, koleksi Vespa Indra mencapai delapan unit, yang beberapa di antaranya terbilang cukup langka.

Sebut saja Vespa Vnb 125cc keluaran 1962 - atau yang populer disebut Cepuk - juga Vespa Sprint Veloce 1974, alias Bagol.

Koleksi Vespa Indra Dhani

“Bagol ini favorit saya. Bukan hanya karena faktor kelangkaan, tapi memang riding position-nya enak,” papar Indra.

Tentu saja Indra tak cuma mengendarai Vespa klasik. Dia juga mengoleksi beberapa model modern macam GTS, bahkan ikut komunitas lokal bernama GTVS sejak pertengahan 2020.

“Vespa jadi semacam penyegaran ketika jenuh bersepeda atau motoran. Riding juga sih, tapi kan sensasinya beda,” tambahnya.