Mengebut bisa terasa menyenangkan apalagi dapat dilakukan di tempat khusus yang dapat memaksimalkan kecepatan kendaraan.

Namun, beberapa negara telah menerapkan peraturan dan pembatasan ketat terkait kecepatan saat mengebut.

Bahkan, denda besar telah mengintai jika para pemacu kecepatan melewati batas kecepatan yang telah ditetapkan di negara tersebut.

Salah satu negara yang menerapkan aturan ketat soal mengebut adalah Norwegia, negara tersebut dikabarkan pernah menyita skuter yang telah dimodifikasi.

Permasalahannya bahkan dinilai sepele, sebab kendaraan tersebut dikabarkan telah tiga kali melewati batas kecepatan yaitu 36 mil per jam (setara 57,9 km/jam).

Meski hal tersebut dinilai sepele, Norwegia menunjukkan betapa seriusnya mereka menangani masalah pelanggaran batas kecepatan.

Jika dilihat lebih jauh ke tahun 1912, Norwegia menerapkan batas kecepatan sebesar 20 mil per jam (32,18 km/jam) di wilayah pedesaan, dan 9 mil per jam (14 km/jam) di wilayah perkotaan.

Namun, aturan tersebut sedikit berubah, menjadi 50 mil per jam (80 km/jam) di area desa dan 30 mil per jam (48 km/jam) di area kota.

Denda yang didapatkan dari melanggar batas kecepatan di Norwegia pun bervariasi, mulai dari 85 dolar jika melewati 5 km/jam batas kecepatan, bahkan bisa mencapai 1.087 dolar.

Berbeda dengan di Jerman yang memberikan kebebasan tanpa batas kecepatan di jalan raya Autobahn, kecuali dalam cuaca buruk.

Hal serupa juga berlaku di Isle of Man dan jalan raya wilayah utara Australia, tidak ada pembatasan kecepatan untuk mengebut.

Bahkan menariknya, di Isle of Man tidak memiliki jalan raya besar, meski mereka tak menerapkan batas kecepatan.

Pada wilayah Amerika Serikat, beberapa negara bagian menerapkan batas kecepatan sebesar 65 mil per jam (104 km/jam), sementara di Hawai sebesar 60 mil per jam (96 km/jam).

Kanada juga menerapkan batas kecepatan sebesar 60 mil per jam. Namun di wilayah Nunavut, hanya sebesar 45 mil per jam (72 km/jam).

Hal seperti ini pun harus menjadi perhatian jika bepergian ke luar negeri agar tidak menjadi permasalahan saat berkendara di jalanan.

Beda lagi di wilayah Tokyo, Jepang. Melanggar batas kecepatan bisa membuat seorang pengendara harus mengikuti sekolah lalu lintas wajib.

Lalu poin dan lisensi memgemudi mereka bisa ditangguhkan, bahkan dihentikan jika memegang pekerjaan kantor publik.

Sementara itu, Swiss memiliki rekor denda mengebut terbesar, sebesar 1 juta dolar (setara Rp14,6 miliar), dan memiliki catatan denda pertama pada tahun 1896, saat Tad Morlan melanggar batas kecepatan 7 mil per jam.