Sebuah penelitian dengan hasil mengejutkan telah dilansir organisasi lingkungan di Jerman, T&E atau transportasi dan lingkungan hidup.

Dijelaskan bahwa mobil plug in hybrid ternyata menghasilkan CO2 (karbondioksida) jauh di atas ambang batas yang ditetapkan.

Meski demikian, artikel ini diharapkan bisa membuat pemilik mobil plug in hybrid tidak perlu merasa bersalah.

Sejatinya, T&E juga memberikan solusi agar angka CO2 bisa ditekan dengan cara bagaimana mengemudi mobil plug in hybrid yang baik dan benar.

Jadi, konsumen bisa terus meneruskan niatnya jika ingin membeli mobil plug in hybrid. Pertama, bisa dengan melihat rekomendasi dari T&E.

Lalu, gunakanlah sebanyak mungkin mesin listrik sehingga mesin bensin bisa sangat minim durasi operasionalnya.

Kepada pabrikan, T&E juga memberikan masukan agar transisi kerja dari mesin bensin ke mesin listrik bisa mulus sehingga proses di balik kap mesin tak menghasilkan banyak CO2.

Menurut Anna Krajinska, teknisi emisi di T&E, ada tiga aspek yang harus segera ditangani oleh produsen PHEV. Mesin, paket baterai, dan kapasitas pengisian daya.

“Daya listrik rata-rata mobil plug in hybrid adalah 43 persen dari tenaga mesin bensin,” kata Anna Krajinska.

“Itu mobil plug in hybrid saat ini lebih mirip dengan mobil bermesin konvensional. Untuk meningkatkan efisiensinya, pabrikan harus memasang motor listrik yang lebih bertenaga.”

“Mobil plug in hybrid harus mampu melaju hingga 80 km/jam hanya dengan mengandalkan tenaga listrik. Lalu, saat pengisian daya bisa dilakukan dengan cepat.”

Seperti yang mungkin Anda sadari, sangat sedikit mobil plug in hybrid yang memiliki kemampuan pengisian cepat.

Kebanyakan mesin bensin yang hidup untuk menggantikan peran paket baterai yang kecil itu. Inilah salah satu alasan mengapa PHEV mengeluarkan karbon dalam uji emisi T&E.

“Selama pengujian T&E, ditemukan bahwa Volvo XC60 dan BMW X5 menyalakan mesin bensin dengan putaran kuat karena memerlukan tenaga besar untuk akselerasi.”

“Ini sama saja menurunkan fungsi mesin listrik hingga 76 persen,” ujar Anna Krajinska. “Lebih dari itu, buku manual Mitsubihi Outlander PHEV juga memaparkan sebuah fakta.”

“Bahwa, mesin bensin bisa hidup secara otomatis di berbagai kondisi meski pun baterai terisi penuh.”

Terlepas dari situasi di mana mobil menuntut mesin untuk bekerja, T&E melakukan pengujian lain.

Kali ini berdasarkan prosedur pengujian RDE (Real Driving Emissions) atau emisi saat berkendara normal untuk jarak 92 kilometer (km).

Itu jarak yang jauh untuk ukuran mobil plug in hybrid yang artinya mesin bensin harus hidup.

"Setelah 75 km (untuk BMW X5), 37 km (Volvo XC60), dan 48 km (Mitsubisi Outlander), mesin bensin hidup dan emisi CO2 pun mulai keluar," ucap Anna Krajinska.

Mitsubishi Outlander PHEV menghasilkan emisi yang lebih tinggi dibanding BMW X5 dan Volvo XC60.

Namun, pengisian dayanya paling efisien. Itu karena mesin bensin hanya berfungsi sebagai generator dan bukan untuk menggerakkan mobil.

Kesimpulannya, mobil plug in hybrid harus benar-benar seperti mobil listrik murni. Jika baterainya mahal, maka produsen harus membuat mesin bensin hanya sebagai generator.

Itulah yang diusung Nissan dengan sistem e-Power. Konsekuensinya, paket baterai yang kecil tapi mesin bensinnya juga kecil.

Sepanjang perjalanan, mesin bensin pun hanya berfungsi sebagai generator pengisi daya untuk baterai.

Dengan menyimak saran T&E ini, Anda bisa menghindari mobil plug in hybrid yang ternyata penyumbang polutan.

Jika ingin tetap beralih ke mobil listrik, maka pilihlah mobil plug in hybrid yang benar-benar digerakkan oleh listrik.