Tiga tahun lalu, Hyundai dan Kia menarik kembali 1,5 juta kendaraan di Amerika Serikat, Kanada, dan Korea Selatan.

Ini salah satu penarikan terbesar pada tahun tersebut, yang memengaruhi 1,19 juta unit di AS dan lebih dari 114.000 kendaraan di Kanada.

Penarikan tersebut dilakukan karena masalah manufaktur yang dapat menyebabkan keausan bearing dan kerusakan mesin.

Hal ini dikonfirmasi Administrasi Keselamatan Lalu Lintas Jalan Raya Nasional (NHTSA).

Kendaraan yang ditarik adalah dua model milik Hyundai, Sonata 2011-2014 dan Santa Fe Sport 2013-2014, serta model Kia lainnya.

Perusahaan terpaksa mengganti mesin, secara gratis, sebagai bagian dari layanan servis.

Galeri: Hyundai meluncurkan satu revisi terakhir untuk Sonata generasi saat ini

Penarikan kembali jutaan mobil itu telah selesai. Hal ini diumumkan Hyundai dalam siaran pers.

Sebagai bagian dari perjanjian, perusahaan Korea asal Selatan itu akan membayar denda tunai sebesar 54 juta dolar AS (sekitar Rp759 miliar) dan harus melakukan investasi sebesar 40 juta dolar AS (sekitar Rp562 miliar) untuk meningkatkan operasi keselamatannya.

Hyundai juga akan dikenakan kemungkinan pembayaran ditangguhkan sebesar 46 juta dolar AS (sekitar Rp647 miliar) tergantung pada kepatuhan perusahaan dengan Perintah Persetujuan NHTSA

Investasi 40 juta dolar ini harus digunakan untuk membangun laboratorium pengujian dan inspeksi lapangan keselamatan di AS.

Serta menerapkan sistem TI baru untuk analisis data keselamatan yang lebih baik dan identifikasi potensi masalah keselamatan.

"Keamanan pelanggan adalah prioritas tertinggi kami dan kami mengambil tindakan segera untuk meningkatkan tanggapan kami terhadap potensi masalah keamanan," kata Brian Latouf, kepala petugas keselamatan, Hyundai Motor Amerika Utara.

"Kami menghargai hubungan kolaboratif dan kooperatif dengan Departemen Perhubungan AS dan NHTSA, dan akan terus bekerja sama dengan badan tersebut untuk secara proaktif mengidentifikasi dan menangani potensi masalah keselamatan."

"Kami berkomitmen untuk menjadi kantor keamanan AS yang terbaik di kelasnya," Brian Latouf menuturkan.