Banyak yang terjadi sejak Bandara Schiphol di Amsterdam, Belanda mendapat 167 unit Model S sebagai taksi pada 2014.

Pada 2018, salah satu perusahaan taksi di Belanda, BIOS-Groep menukarkan beberapa unit Tesla Model S dengan Model X. Tesla tampak cukup bangga dengan kesepakatan tersebut.

Belakangan, BIOS-Groep menyadari bahwa itu hanya upaya Tesla agar mereka tetap memakai merek itu sebagai kendaraan operasional mereka.

Merasa sudah jengkel, BIOS-Groep sekarang menggugat Tesla untuk kerugian 1,3 juta euro (sekitar Rp22,2 miliar) karena cacat mobil.

Ini bukan gugatan pertama yang dihadapi Tesla di bandara Belanda. Pada November 2019, empat pengemudi taksi yang pernah bekerja untuk SchipholTaxi menggugat Tesla.

Disebabkan oleh masalah yang sama itu pula yang sekarang dituntut oleh BIOS-Groep. Mereka mengklaim telah mengalami kerugian finansial yang besar.

Perbedaannya, SchipholTaxi tidak mendukung klaim pengemudi sedangkan BIOS-Groep lebih mendengarkan keluhan mereka.

Informasi gugatan baru diterbitkan oleh surat kabar bisnis di Belanda, FD (Het Financieele Dagblad) pada 23 November.

Kami mencoba menghubungi wartawan yang menulisnya dan juga BIOS-Groep untuk mencari tahu lebih detail tentang apa yang terjadi.

Sayangnya, kami tidak mendapat kabar dari mereka sampai perusahaan taksi Belanda itu sendiri menerbitkan artikel FD di situs mereka.

Dijelaskan di situ dan dilengkapi dengan video tentang daftar kerusakan mobil-mobil Tesla tersebut. Tidak semua tapi pastinya ada beberapa.

Tidak hanya mobil Model X saat ini, tetapi juga unit Model S yang mendahuluinya. Mengenai videonya, jika Anda belum menontonnya, coba lihat.

Jangan lupa nyalakan audionya. Itu bagian terpentingnya. Kita bakal tak menyangka Tesla yang sedemikian canggih jika rusak bisa sangat parah kondisinya.

Seperti yang Anda lihat, Tesla Model X berdecit seolah memohon untuk tidak dikendarai lagi. Dipakai sebentar hanya untuk direkam.

Lalu, mobil itu dikembalikan ke tempat khusus bersama 20 mobil yang bermasalah lainnya dan menunggu untuk diperbaiki.

BIOS-Groep mengatakan masalahnya berkisar dari suspensi putus hingga power steering yang rusak.

Tofik Ohoudi adalah manajer armada Schiphol mengatakan kepada FD bahwa dia tidak pernah menghadapi lebih banyak masalah daripada dengan mobil Tesla.

Suspensi wishbones rusak adalah sesuatu yang belum pernah dia lihat di kendaraan dengan jarak kurang dari 500.000 kilometer (km).

Perusahaan lain bernama Taxi Jappie juga menggunakan kendaraan Tesla di Bandara Schiphol.

Direkturnya, Jill Sweijen, mengatakan dia tidak pernah harus mengganti komponen struktural suspensi di Mercedes-Benz mana pun yang dimiliki perusahaan.

Taksi Jappie saat ini bekerja dengan sepuluh kendaraan Tesla di bandara Belanda. Selain mengalami masalah yang sama, perusahaan ini juga mengalami masalah lain dengan Tesla.

Tujuh dari 10 mobil memiliki perbedaan dalam jarak antara odometer mobil dan jarak tempuh yang ditunjukkan oleh BCT (board-computer-taxi, atau computerized taximeter).

Salah satunya memiliki perbedaan lebih dari 4.700 km (2.920 mil). Pihak Tesla sendiri tak merespons masalah ini ketika keluhan dilayangkan ke mereka.

Begitu banyaknya masalah Tesla di Belanda dengan satu kesamaan, yaitu sama-sama kendaraan operasional taksi.