Brand asal Prancis itu siap bekerja sama dengan para pemimpin di bidang tersebut.

Bukan hanya perusahaan mobil dan sepeda motor, produsen ban pun kini mulai serius menatap masa depan beserta segala perubahan teknologinya.

Continental akan menjadi yang pertama merilis ban pintar yang terhubung dengan publik, sementara Bridgestone sedang mengembangkan lini baru ban yang ramah lingkungan.

Tidak mau kalah, Michelin kini ikut berpartisipasi sekaligus meningkatkan taruhan, dengan berkomitmen memproduksi 100 persen ban ramah lingkungan pada 2050.

Harapan brand asal Prancis itu bertumpu kepada konsep Vision yang mereka perkenalkan tahun 2017 lalu.

Prototipe tanpa udara, ramah lingkungan, dapat diisi ulang, dan terhubung itu berfungsi sebagai tolok ukur masa depan perusahaan.

Ban produksi Michelin sudah terdiri dari lebih dari 200 bahan, termasuk material alternatif seperti karet sintetis, resin, dan silika.

Pabrikan mereka saat ini memproduksi ban dengan 30 persen bahan baku alami, daur ulang, atau berkelanjutan. Angka tersebut akan meningkat tajam seiring target 2050 tadi.

external_image

Agar bisa melakukan pekerjaan maksimal dalam mencapai tujuan mereka, Michelin berkolaborasi dengan para pemimpin di bidang energi terbarukan.

Salah satu bentuk tindakannya adalah mengganti butadiene yang berasal dari minyak dengan versi lain berbasis nabati. Dengan begitu, proyek dapat memperluas bahan yang tersedia.

Upaya lain di bagian ini termasuk menghasilkan styrene plastik yang diproduksi dari wadah makanan dan panel isolasi.

Meningkatkan blok bangunan tentu membantu, tetapi bahan daur ulang yang saat ini digunakan juga sama pentingnya.

Michelin juga mengerjakan teknologi untuk mendaur ulang polistirena dan mendapatkan minyak pirolisis dari ban bekas.

Enviro adalah pemegang hak paten atas teknologi penemuan minyak pirolisis, gas, dan baja.

Michelin siap bermitra dengan perusahaan Swedia itu dalam pembangunan fasilitas daur ulang ban komprehensif pertama mereka.

Michelin juga mendukung konsorsium BlackCycle. Proyek yang didanai Uni Eropa ini menyatukan 13 perusahaan publik dan swasta untuk mengintegrasikan daur ulang ban dengan proses produksi.

Tujuan Michelin memang bukan hal yang mudah. Tetapi inisiatif, kemitraan, dan proyek yang digalang brand tersebut saat ini memberi mereka lebih dari secercah harapan.

Sekarang, pertanyaannya adalah, seperti apa tampilan ban yang 100 persen berkelanjutan pada sepeda motor? Bagaimana kinerjanya? Mungkin waktu yang bisa menjawab.

Yang pasti, ketika para produsen ban sedang melihat ke masa depan, Michelin adalah merek dengan pandangan terjauh.