Hyundai Motor Group secara perlahan mulai mempersiapkan diri untuk evolusi otomotif selanjutnya: EV.

Menurut laporan terbaru Reuters - yang mengutip sumber anonim - para petinggi perusahaan menyetujui rencana untuk memotong populasi model bermesin pembakaran hingga setengahnya, Maret lalu.

Sumber Reuters tidak memberikan timeline pasti kapan hal tersebut akan terjadi. Namun, Hyundai diyakini akan menyelesaikan strategi EV mereka dalam enam bulan ke depan.

Langkah ini dirancang untuk membebaskan sumber daya R&D, yang kemudian dialihkan ke bidang "motor listrik, baterai, dan sel bahan bakar," kata salah satu sumber.

Reuters meminta Hyundai untuk menguraikan rencana lebih lanjut, dan sang automaker mengatakan bahwa mereka sedang mempercepat upaya menuju kendaraan listrik dan sel bahan bakar hidrogen.

Perusahaan asal Korea Selatan (Korsel) itu berharap bisa menjual satu juta EV per tahun pada 2025. Untuk mencapai target tersebut, mereka tentu membutuhkan lineup kendaraan yang cukup.

Hyundai berharap bisa menjadi produsen mobil listrik sepenuhnya pada 2040.

Galeri: Hyundai IONIQ 5 2022

Awal bulan ini, Hyundai mengumumkan akan berinvestasi sebesar 7,4 miliar dolar AS (Rp104 triliun) untuk sejumlah fasilitas di Negeri Paman Sam hingga 2025,

Salah satunya misinya adalah upgrade untuk membangun EV baru di Amerika, tahun depan. Investasi tersebut juga termasuk mendukung infrastruktur hidrogen.

Rencana pemangkasan sudah berlangsung di Cina, di mana perusahaan mengatakan akan mengurangi jumlah model bermesin pembakaran dari 21 menjadi 14 pada 2025, sembari memperkenalkan EV baru setiap tahun.

Hyundai Motor Group juga mengatakan kepada Reuters bahwa mereka perlahan akan memperluas lineup EV di AS, Eropa, dan Cina.

Untuk kawasan AS, Hyundai telah menyusun roadmap yang akan membuat brand tersebut memiliki 10 model ramah lingkungan, yang meliputi hybrid, plug-in hybrid, dan kendaraan listrik.

Semua itu akan tersedia pada akhir 2022.

Langkah untuk menarik sumber daya dari pengembangan mesin pembakaran bukanlah hal baru, karena beberapa produsen mobil lainnya juga telah mengambil keputusan serupa.

VW Group, termasuk Audi, telah menghentikan pengembangan untuk mesin pembakaran anyar, dan fokus kepada pembaruan powertrain yang ada.