Troller didirikan pada 1995 sebagai merek independen dan benar-benar produk Brasil.

Brasil identik dengan sepak bola. Itu sepenuhnya benar. Tapi, bukan berarti tak industri otomotif yang berkembang di negara itu.

Ford pernah punya pabrik di Brasil setelah mengakuisisi merek lokal, yaitu Troller. Sayang, Ford pun tak bisa lanjut lagi lalu mengumumkan penutupan pabriknya di Brasil.

Satu pertanyaan besar adalah apa yang akan diberikan kepada Troller yang memiliki basis penggemar yang besar di Brasil.

Troller sendiri adalah spesialis merek untuk kendaraan off-road berat. Kabar baik pun dilansir oleh Radio O Povo CBN, pekan lalu.

Pada wawancara dengan Menteri Pengembangan Ekonomi dan Tenaga Kerja, Maia Junior, dijelaskan bahwa Troller akan kembali masuk pasaran dan dijual pada Juni ini.

Artinya, produksi kembali bergulir meski tak dirinci berapa unit yang keluar dari pabrik dan dengan target berapa banyak.

Galeri: Troller T4 2020

Latar Belakang

Pabrik mobil Troller telah hadir di kota Horizonte sejak 1995. Didirikan sebagai merek independen dan benar-benar produk Brasil.

Pada 2007, Troller dibeli oleh Ford, dengan pabrik yang dimodernisasi dan dibuka kembali pada tahun 2014.

Pada tahun itu pula Troller T4 dirilis dengan mesin 3,2 liter turbodiesel 200 daya kuda yang diambil dari Ford Ranger.

Negosiasi

Kembali ke kondisi saat ini, menteri Maia Junior saat ini bertindak sebagai mediator dalam negosiasi antara investor dan Ford.

Selain itu, dia mengatakan bahwa Ford tertarik untuk menutup negosiasi penjualan Troller pada akhir bulan Juni ini.

Menteri Maia Junior menjelaskan bahwa negosiasi harus memiliki hasil yang positif. Dijelaskan bahwa ada empat pihak yang tertarik membeli Troller.

Dua dari empat pihak itu berada di posisi yang sangat serius untuk membeli Troller dari Ford di masa depan.

Menteri Maia Junior juga menyatakan bahwa salah satu investor terdekat Ford yang ingin membeli Troller adalah perusahaan teknik otomotif yang bermarkas di Sao Paulo.

Dalam wawancara, menteri Maia Junior juga mengungkapkan bahwa calon pembeli masa depan memilih taktik mendekati mantan direktur Ford.

Mereka mengatur strategi yang akan membantunya maju dalam negosiasi, sehingga berhasil dalam pembelian Troller.

“Saya tidak bisa merinci karena ini hubungan antara penjual dan pembeli, saya hanya fasilitator,” kata menteri Maia Junior.

“Kami mendukung pembeli potensial karena akan jadi kepentingan pemerintah negara, kelangsungan pabrik, dan mempertahankan tenaga kerja.”

Upaya pemerintah tersebut bertujuan untuk memastikan perusahaan tetap beroperasi di demi kelangsungan hidup 470 karyawan.

Lebih dari itu, Troller pun diproyeksikan bisa mengikuti tren dengan membuat mobil listrik atau hidrogen.