Ada dua hal yang langsung muncul dalam pikiran ketika mendengar kota Milan. Yang pertama, tentu saja adalah reputasinya sebagai Kota Mode Dunia selain Paris, Prancis. Yang kedua, Milan adalah kandang dari dua klub dengan sejarah paling panjang di Liga Sepak Bola Italia, AC Milan dan Inter Milan.

Namun, belakangan nama Milan kembali mencuat sebagai "ibu kota" tranportasi ramah lingkungan di Italia, atas komitmen pemerintah kotanya untuk menghadirkan alternatif tranportasi publik nol emisi.

76 persen transportasi publik di Milan telah menggunakan moda ramah lingkungan.

Hal ini diikuti oleh Brescia dan Bergamo, kota-kota yang terletak di dekat Milan, dengan tingkat elektrifikasi transportasi publik mencapai 17 persen dan 23 persen.

Meski demikian, warga kota Milan masih perlu meningkatkan penggunaan tranportasi pribadi ramah lingkungan, mengingat persentasenya masih cukup rendah.

Berdasarkan laporan yang dibuat oleh Legambiente dan Motus-E, CittaMEZ, hanya 0,8 persen dari keseluruhan mobil dan motor yang dimiliki oleh masyarakat menggunakan tenaga listrik.

Meski terbilang rendah, jumlah ini empat kali lebih besar dibandingkan persentase nasional yang hanya mencapai 0,2 persen.

Bus elettrici con ricarica intelligente a milano

"Transformasi mobilitas publik adalah pilar yang sangat esensial," ujar Francesco Naso, Koordinator Pasar dan Teknologi Lingkungan Motus-E.

"Hal ini tidak akan tercapai dengan hanya mengurangi jumlah transportasi pribadi, melainkan juga elektrifikasi kendaraan yang beroperasi di seluruh kota," ujarnya.

CittaMEZ juga menyebutkan bahwa pada saat ini jumlah bus diesel di kota Milan, Bergamo, dan Brescia masih cukup banyak, yakni mencapai 1.200 unit.

Jika dibandingkan dengan jumlah bus listrik yang "baru" tersedia sebanyak 124 unit, jumlah tersebut terkesan jomplang.

Namun, dengan proyek ATM yang bertujuan mengkonversi secara total bus diesel menjadi bus listrik, diharapkan di akhir tahun ini jumlah bus listrik mencapai 167 unit hingga akhirnya 100 persen terkonversi di akhir dekade ini.

Milano, Piazza Duomo

Bukan tanpa alasan elektrifikasi transportasi, baik publik maupun pribadi, dijadikan fokus perhatian di Italia belakangan ini.

Kesadaran akan kelestarian lingkungan tentu menjadi alasan utama. Namun, di samping itu, rendahnya biaya untuk perawatan dan pengisian daya jadi faktor yang patut dipertimbangkan.

Oleh karena itu, Motus-E menerbitkan sebuah buku pegangan alias vademecum mengenai bagaimana merealisakan transportasi publik berbasis bus listrik.

Lewat publikasi laporan dan vademecum ini, Motus-E dan Legambiente juga berusaha menepis berita bohong yang selama ini beredar bahwa elektrifikasi transportasi menyebabkan terjadinya mati listrik di Italia.

Legambiente, yang merupakan organisasi pencinta alam Italia, justru menuding pemanasan global sebagai biang keroknya.

Dengan suhu udara yang semakin memanas, banyak penduduk Italia menyalakan pendingin ruangan lebih sering daripada biasanya, yang menambah beban listrik negara.

Selain Milan, Motus-E dan Legambiante juga memantau kota Turin dan Cagliari. Ketiganya bahkan dicanangkan sebagai kota ramah lingkungan pada 2030.

Selanjutnya, dua instansi ini akan memantau pelaksanaan elektrifikasi transportasi publik di Roma dan Bari pada awal Juli ini.