Indonesia termasuk negara yang memiliki rasio kepemilikan kendaraan yang kecil, hanya 99 unit/1000 penduduk.

Bandingkan dengan Brunei yang memiliki rasio 805 unit/1000 penduduk dan menjadi yang terbesar di Asean.

Oleh karena itu, peluang industri otomotif Indonesia masih sangat terbuka lebar. Apalagi pemerintah juga membuka peluang investasi bagi pemain otomotif global.

Selain memproduksi kendaraan dan dijual untuk kebutuhan dalam negeri, industri otomotif nasional juga memproduksi kendaraan untuk kepentingan ekspor.

Di Indonesia, saat ini tercatat ada 10 produsen yang memproduksi kendaraannya dan mengekspornya ke-80 negara.

Ke-10 perusahaan otomotif itu adalah Nissan, Daihatsu, Toyota, Suzuki, Honda, Mtsubishi, Hino, Sokon, SGMW, dan Isuzu.

Adapun negara yang menjadi tujuan ekspor kendaraan dari Indonesia yaitu wilayah Asean (9 negara), Oceania (3 negara), Asia dan Middle East (13 negara), Afrika (19 negara), dan Amerika Selatan dan tengah (36 negara).

Berdasarkan data dari Kementerian Perindustrian (Kemenperin) kinerja ekspor kendaraan dari Indonesia memang belum maksimal.

Pada tahun 2019 ekspor kendaraan dalam bentuk completely build up (CBU) mencapai 332.023 unit, ekspor dalam bentuk completly knock down (CKD) sebanyak 511.425 set, dan ekspor komponen 79,3 juta pieces.

Pada tahun 2020 ekspor Indonesia mengalami penurunan, yaitu ekspor CBU 232.175 unit, CKD 53.032 set, dan komponen 61,2 juta pieces.

Sedangkan untuk tahun 2021, data sampai dengan bulan Mei, tercatat ekspor CBU 121.326 unit, CKD 44.633 set, dan komponen 31,24 juta pieces.

Kemenperin mentargetkan pada tahun 2025 Indonesia bisa melakukan ekspor CBU sebanyak 1 juta unit dengan jumlah negara tujuan menjadi 100 negara.

Pemerintah memang berupaya keras agar kemampuan ekspor Indonesia semakin kuat.

Pembukaan Pelabuhan Internasional Patimban memang menjadi salah satu upaya untuk mendongkrak kemampuan ekspor Indonesia.

Pelabuhan Patimban terletak di Subang, Jawa Barat dan berada tidak jauh dari sentral otomotif di Karawang dan akan terkoneksi dengan jalan tol dan jalur kereta api.

Pelabuhan yang dioperasikan tersebut merupakan hasil pembangunan Tahap I dan siap melayani peti kemas dengan kapasitas 3,75 juta TEUs dan kapasitas car terminal sebesar 218 ribu mobil CBU (completely built up).

Selanjutnya pada tahap II dilaksanakan pada 2021-2024 dan akan dibangun sebanyak kurang lebih 66 hektare dan tambahan untuk car terminal.

Selanjutnya tahun 2024-2025 dilakukan pembangunan terminal peti kemas dengan kapasitas kumulatif kargo sebanyak 5,5 juta TEUs.

Tahap akhir di tahun 2026-2027, dilakukan pembangunan berupa terminal peti kemas dengan kumulasi kapasitas sebanyak 7,5 TEUs dan 600 ribu CBU.

Pelabuhan Patimban juga akan disinergikan dengan Pelabuhan Tanjung Priok sehingga dapat meningkatkan efisiensi waktu dan biaya logistik nasional.

 

Galeri: FIN Komodo Bledhex, Mobil Off-Road Listrik Indonesia