Event itu sangat tidak disukai publik, beriklan sama saja bunuh diri.

Toyota, salah satu sponsor di perhelatan Olimpiade Tokyo tidak akan menayangkan iklan televisi di Jepang.

Itu berlangsung selama digelarnya pesta olahraga dunia mulai 23 Juli hingga 8 Agustus di ibu kota Jepang tersebut.

Tentunya ada alasan mengapa Toyota bersikap seperti itu padahal salah satu pabrikan mobil terbesar di dunia itu masuk dalam daftar sponsor utama.

"Agar tidak mengambil risiko yang dikaitkan dengan peristiwa yang berpotensi negatif karena Olimpiade menjadi event yang tidak disukai publik".

Demikian pernyataan atau kesimpulan yang bisa diambil dari sikap Toyota dalam pandangannya terhadap soal iklan tersebut.

Memang, perhelatan Olimpiade Tokyo menimbulkan pertentangan dari publik domestik Jepang lantaran serangan kedua pandemi Covid 19.

Keputusan itu diumumkan oleh Shino Yamada, juru bicara Dewan Perwakilan Rakyat Jepang terkait masalah ni.

Disampaikan juga bahwa Presiden Toyota, Akio Toyoda tidak akan menghadiri upacara pembukaan Olimpiade Tokyo.

Shino Yamada kemudian menyampaikan solidaritas kepada masyarakat yang tidak akan dapat menghadiri event besar tersebut.

Olimpiade Tokyo jadi olimpiade pertama dalam sejarah tanpa penonton yang karena pandemi dan akan berlangsung secara tertutup.

Jun Nagata, Kepala Komunikasi Dewan Perwakilan Rakyat Jepang, membenarkan bahwa beberapa iklan promosi Toyota telah dibuat untuk acara tersebut.

Bintangnya adalah atlet yang paling dinanti sebagai protagonis tapi dipastikan tak akan ada mata yang memandangnya karena tidak bakal ditayangkan.

Meskipun iklan tidak ditayangkan, Toyota akan tetap mendukung semua atlet yang terlibat dalam Olimpiade Tokyo.

Toyota pun akan secara teratur menyediakan mobil mereka untuk memfasilitasi logistik dan transportasi selama perhelatan besar itu.

Olimpiade Tokyo Ditolak

Sejak awal Juli, telah terjadi lonjakan kasus warga yang terinfeksi Covid 19 di Tokyo. Sekitar 1.400 per hari dan merupakan jumlah tertinggi sejak Januari 2021 ini.

Situsi itu pula yang mendorong pemerintah Kota Tokyo untuk mengumumkan keadaan darurat di ibukota negara.

Penolakan kian mengental karena banyak sekali warga yang khawatir tentang penyebaran virus.

Ini wajar mengingat atlet dan operator berasal dari seluruh dunia dan dari kondisi masing-masing negara yang sangat berbeda.

Taka Masaya, juru bicara Olimpiade Tokyo, mengatakan bahwa, terlepas dari penolakan Toyota untuk menayangkan iklan, ada sentimen publik yang bervariasi terhadap event ini.

Seperti yang dilaporkan oleh IlSole24Ore, dari jajak pendapat yang dilakukan oleh penyiar lokal JNN.

Hasilnya menunjukkan bahwa 35 persen warga yang diwawancarai mendukung Olimpiade Tokyo tanpa penonton.

Lalu, 26 persen setuju digelar dengan penonton dan 34 persen mendukung pembatalan dan penjadwalan semua kegiatan ke kemudian hari.