Badan Perlindungan Lingkungan (EPA) telah menetapkan aturan emisinya di bawah pemerintahan Presiden Amerika Serikat, Joe Biden.

Aturan tersebut akan berlaku untuk mobil yang diproduksi pada 2023 hingga 2026. Ini jadi standar emisi yang paling ambisius yang pernah ada.

Bagaimana tidak, EPA menargetkan agar polusi dan pencemaran udara karena bahan bakar kendaraan turun hingga 28 persen pada 2026.

Tujuannya adalah untuk mengurangi polusi iklim, meningkatkan kesehatan masyarakat, dan menghemat uang untuk bahan bakar bensin yang mahal.

Jika dilihat, aturan terbaru EPA tersebut lebih ketat daripada yang diusulkan saat pembuatan aturan awal pada Agustus 2021.

Aturan ini mengikuti standar efisiensi bahan bakar yang telah ditetapkan selama pemerintahan Barrack Obama.

Waktu itu semangatnya dalam upaya mengurangi emisi gas rumah kaca dan memerangi perubahan iklim.

Aturan baru EPA itu menargetkan efisiensi konsumsi bahan bakar rata-rata seluruh armada sekitar 1:17 pada 2026.

Sebagai perbandingan, proposal pada Agustus 2021 menyebutkan konsumsi 1:16, sedangkan pada masa Donald Trump hanya 1:13,6.

Trump juga menurunkan kenaikan efisiensi tahunan menjadi 1,5 persen. Aturan EPA baru meningkatkannya kembali menjadi 5 persen, yang merupakan standar selama masa pemerintahan Obama.

Sementara, hasil akhir yang ingin diraih EPA adalah pengurangan emisi CO2 gabungan sebesar 28,3 persen hingga 2026.

Menurut EPA, standar yang ketat itu benar-benar akan hemat biaya dan bisa digunakan untuk fokus untuk membangun fasilitas kesehatan dan kesejahteraan masyarakat.

EPA memproyeksikan bahwa pengemudi Amerika bisa menghemat hingga 420 miliar dolar atau Rp5,99 kuadriliun (satuan di atas triliun) hingga 2050 untuk biaya bahan bakar.

Lalu bagaimana langkah yang akan ditempuh oleh pemerintah dan EPA untuk menwujudkan visi dan misinya tersebut?

Caranya tak lain dan tidak bukan akan meningkatkan penjualan kendaraan listrik yang kian cepat transformasinya.

EPA juga mencatat bahwa di bawah Undang-Undang Infrastruktur Bipartisan menyebut dana sebesar 7,5 miliar dolar akan dialokasikan untuk pembuatan stasin pengisian daya.

Targetnya, ada 500 ribu  stasiun pengisian umum pada tahun 2030. Sementara 7 miliar dolar disisihkan untuk investasi dalam pembuatan baterai.

Termasuk membangun proses daur ulang untuk menurunkan biaya, meningkatkan keberlanjutan, dan membuat baterai yang akan memberi daya pada kendaraan masa depan.

Galeri: Tesla Model 3 2022