Ingat kisah Nissan LEAF yang berjuang mengatasi panas di Arizona, Amerika Serikat, dan Nissan merespons dengan menjamin kapasitas baterai tetap di atas 70 persen?

Nah, tampaknya sekarang ada bukti ilmiah bahwa baterai lithium-ion yang jamak digunakan di mobil listrik tidak dapat mengatasi panas.

Para ilmuwan mempresentasikan studi baterai lithium-ion yang komprehensif pada Pertemuan & Pameran Nasional ke-245 dari American Chemical Society (ACS) yang diadakan di New Orleans, Amerika Serikat, beberapa waktu lalu.

Temuan dari studi masa pakai baterai ini mengkonfirmasi apa yang dialami pemilik LEAF di iklim hangat.

Mikael G. Cugnet, seorang PhD, mengutarakan hasil penelitiannya mengenai umur baterai mobil saat digunakan dalam cuaca panas.

"Paket baterai dapat digunakan selama jangka waktu yang cukup masuk akal mulai dari 5 hingga 20 tahun tergantung pada banyak faktor," ujar Cugnet.

"Itu kabar baik ketika Anda mempertimbangkan bahwa beberapa perkiraan menyebutkan harapan hidup rata-rata mobil baru sekitar delapan tahun."

Termometer

Thermometer...High Heat and Lithium-Ion Aren't Friends

Menurut Cugnet, usia pakai baterai mobil tergantung pada beberapa variabel, antara lain suhu baterai, status pengisian, dan protokol pengisian daya.

Cugnet pun melanjutkan dengan menjelaskan bagaimana daya tahan baterai dan kinerja menurun saat merkuri meningkat.

Menurut Cugnet, saat suhu udara melebihi 86 derajat Fahrenheit (sekitar 30 derajat Celcius), baterai lithium-ion mulai mengalami efek buruk.

"Semakin tinggi suhu, semakin rendah masa pakai baterai," ucap Cugnet.

"Suhu di atas 86 derajat Fahrenheit memengaruhi kinerja paket baterai secara instan dan bahkan permanen jika berlangsung berbulan-bulan seperti di negara-negara Timur Tengah," tuturnya.

Cugnet lebih lanjut menyarankan bahwa pengisian daya baterai memainkan peran besar dalam menentukan umur panjang di iklim hangat.

Seperti yang dinyatakan Cugnet, baterai yang terisi penuh lebih rentan pada suhu di atas 86 derajat Fahrenheit.

Temuan Cugnet berasal dari data yang diperoleh dari penggunaan dunia nyata dari kendaraan listrik dan simulasi siklus pengeringan dan pengisian ulang.

Tim peneliti menganggap baterai berada di luar masa pakainya ketika kapasitasnya turun 20 persen.

Tentu saja, kami lebih suka melakukan beberapa penelitian tentang masalah ini sebelum kami menyajikan kesimpulan besar, tetapi temuan di sini menunjukkan bahwa panas jelas tidak ramah untuk baterai lithium-ion.

Berdasarkan temuan ini, pengguna mobil listrik di Indonesia patut waswas. Pasalnya, belakangan cuaca panas terik menyerang banyak wilayah di Tanah Air.

Berdasarkan laporan dari BMKG, suhu maksimum selama periode 1-7 Mei 2022 berkisar antara 33-36,1 derajat Celcius.

BMKG sendiri menyebut cuaca terik ini tidak ada hubungannya dengan gelombang panas yang menyerang banyak negara lain, dan akan mereda saat memasuki pertengahan Mei.

Jika Anda merupakan pengguna mobil listrik, ada baiknya untuk tidak menggunakannya dahulu hingga cuaca panas mereda.

Hal ini penting untuk menjaga umur baterai karena suhu udara di Indonesia saat ini jauh di atas suhu udara yang direkomendasikan untuk mobil listrik.

via ACS